Cuap Remaja
Minggu, 12 April 2009
Dampak Globalisasi TI
Perubahan sosial suatu fenomena alamiah yang tidak
bisa dihindari oleh makhluq yang bernama manusia.
Potensi dasar untuk berubah telah dianugrahkan oleh
Allah kepada manusia itu sendiri, yaitu potensi akal,
mengelaborasi pemikiran dan melakukan kreativitas
serta inovasi dalam upaya merubah dan mempermudah
kehidupan sehingga manusia bisa tetap eksis dan
survive. Peran akal yang ada pada manusia menjadi
potensi utama terjadinya perubahan, dengan potensinya
itu manusia melakukan revolusi pemikiran sehingga
pemikiran ini berkembang dan merambah dunia tanpa
batas dan sekat territorial, inilah apa yang disebut
dengan globalisasi. Terjadinya globalisasi bukan tanpa
sarana, karena tanpa sarana penunjang tidak akan
terjadi globalisasi, sarana utama terjadinya
globalisasi ini adalah teknologi informasi.
Globalisasi Teknologi Informasi (GTI), berperan
dominan dalam merubah struktur sosial, politik, budaya
bahkan ideologi dan hankam. Produk teknologi
informasi, seperti TV, VCD/DVD, computer (internet),
HP dan yang sejenis begitu real, aktual dan faktual
untuk dapat melihat dampak dari peran GTI ini dalam
merubah struktur sosial terutama mempengaruhi pola
pikir (ideologi), akhlaq (prilaku) masyarakat dan
budaya.
Produk Teknologi Informasi seperti tersebut di atas,
menjadi suatu barang yang lumrah dimiliki hampir oleh
semua strata sosial dari yang termiskin sekalipun
menikmati produk TI tersebut. Misalnya media visual
(TV) dan media cetak (Koran, Majalah, Tabloid, dan
buku) menjadi produk TI yang paling dominan
mempengaruhi struktur sosial terkait dengan prilaku
dan budaya. Karena begitu banyak macam ragam prilaku
sosial yang disebabkan atau dipengaruhi oleh tontonan
dan bacaan, sebut saja misalnya menjamurnya perbuatan
perbuatan asusila, pelacuran, lesbian, homoseks,
pelecehan seksual, pemerkosaan; kemudian tindak
kriminal, seperti pembunuhan, perampokan, korupsi,
penipuan, minuman keras dan narkoba. Semua itu menjadi
fakta bagaimana produk TI sangat dominan mempengaruhi
prilaku masyarakat dalam kehidupan sosial. Bahkan
fenomena itu dipertontonkan oleh hampir semua media
visual (TV), seperti Buser(SCTV), Sidik Jari(ANTV),
Sergap (RCTI), Sidik(TPI), Patroli(Indosiar),
Tikam(Lativi), Brutal(Lativi), Derap Hukum(SCTV),
Fakta (ANTV), dll. Tayangan tersebut di atas terkait
dengan aspek moral, tetapi kini sedang trend pula
dengan aspek budaya dan ideology (aqidah), sebut saja
misalnya tayangan-tayangan reality show, seperti
Indonesian Idol-RCTI, Akademi Fantasi Indonesia
(AFI)-Indosiar, KDI-TPI,
Prilaku masyarakat juga sangat dipengaruhi oleh bacaan
(media cetak), di sisi lain kondisi media cetak hampir
sama dengan Media Visual walaupun tidak separah dan
sekhawatir Media Visual. Hampir semua Media cetak
menampilkan gambar-gambar yang berbau pornografi dan
pornoaksi walaupun volume tampilannya tidak sama dari
masing-masing media itu. Fenomena menjamurnya media
cetak ini terutama terjadi pasca tahun 1998,
bermunculanlah berbagai jenis Koran termasuk
tabloid-tabloid cabul, seperti popular, POP, Liberty,
WOW, lampu Merah, dll. Termasuk banjirnya
pemikiran-pemikiran yang merusak yang ditampilkan oleh
Koran-koran dengan alasan kebebasan dan HAM.
Remaja : Trend Budaya dan Target Perubahan
Karena begitu besarnya potensi remaja ini, remaja
menjadi sasaran penghancuran supremasi sebuah negara,
untuk menghancurkan sebuah negara ataupun kelompok
agama, maka hancurkanlah remajanya. Termasuk untuk
kepentingan politik, remaja menjadi sasaran yang
sangat potensial dalam peraihan suara, ini gambaran
begitu signifikannya eksistensi remaja. Kiranya tepat
seandainya Islam memberikan peran tersendiri terhadap
eksistensi remaja ini, Rasulullah dalam setiap
harakahnya selalu menjadikan remaja sebagai bagian
dari pengkaderan dan bahkan memberikan peran yang
sangat penting dan vital. Disinilah pentingnya para
orang tua memberikan didikan dan bimbingan terhadap
remaja dan mengarahkan remaja kepada arah yang dapat
mencerahkan perkembangannya dan masa depannya.
Tantangan yang harus disadari oleh para remaja
diantaranya adalah Bahaya kepentingan global, yang
menjadikan remaja sebagai sasaran utama dalam rangka
menghancurkan supremasi sebuah negara, yaitu :
a.Bahaya narkoba dan zat zat aditif (psikotropika)
b.Serangan budaya, seperti film, gaya hidup dan
fashion
c.Serangan pemikiran, menghancurkan pola pikir.
d.Bahaya social, kenakalan remaja, tawuran dan
gangster.
Berawal dari sinilah sehingga terjadi splite
personality pada diri remaja bahkan para remaja bangga
dengan segala gaya hidup dari luar dan apriori
terhadap agamanya bahkan bisa jadi melakukan
resistensi terhadap Islam, karena sudah sangat kronis
dihinggapi oleh hal-hal yang tersebut di atas. Semua
itu terjadi sebagai dampak dari tontonan yang
disiarkan oleh stasiun televise, sebutlah misalnya
sebuah tayangan promosi perkawinan lesbian di Trans TV
pada acara Good Morning pada 13 Juni 2005 pukul 08.30.
Bagaimana tayangan itu membangun opini tentang hak-hak
mereka sebagai manusia yang hidup di masyarakat yang
sama denga \n yang lainnya. Tayangan acara Fenomena
(masih di TransTV) yang menampilkan gaya hidup dan
kehidupan masyarakat terutama pada pelacur, kaum gay,
kaum gigolo, kaum lesbi dan homoseks. Program-program
TV banyak membidik remaja da menjadikan remaja sebagai
konsumen utama, maka tidaklah heran jika kemudian
remaja kita hancur akibat tontonan yang tidak mendidik
yang ditayangkan oleh pengusaha stasiun TV, karena
orientasinya bukan dalam kerangka membangun bangsa
tetapi lebih karena kepentingan bisnis semata tanpa
memperhatikan nilai-nilai budaya dan moral bangsa.
Contoh program yang membidik remaja yang kadang isinya
tidak mendidik seperti halnya tren reality show,
sehingga menjadi budaya dan dijadikan figure atau
kebanggaan oleh para remaja tetapi miskin keteladanan.
Sehingga banyak fenomena remaja yang terjadi di
masyarakat, seperti kasus seks bebas yang terjadi di
Bandung kasus mahasiswa Itenas, Iklan Sabun, kasus
film Sumedang, Anak Dago, Kasus Film Anak SMU, kasus
foto mojokerto, termasuk fenomena perdagangan ABG ke
luar negeri dan pelacuran Internasional dimana
didatangkan pelacur-pelacur dari China, Rusia, dll.
Fenomena mengerikan ini tak terlepas dari budaya kaum
urban akibat dari globalisasi TI, yaitu Media massa,
baik itu cetak ataupun visual.
Para pengusaha stasiun TV berlomba-lomba menciptakan
program agar diminati oleh pemirsa, persaingan ini
benar-benar murni bisnis tanpa memperhatikan etika dan
moralitas, karena yang penting program laku. Terlebih
sekarang sedang trend program-program yang menayangkan
acara-acara tentang yang ghaib berbau syirik, seperti
Dunia Lain, Ekspedisi Alam Ghaib, Pemburu Hantu,
Uka-Uka, Pesugihan, Mereka Ada Dimana-mana, Ingin
Cepat Kaya, dll. Termasuk kini juga sedang trend
film-film berbau keagamaan tetapi ironis isinya penuh
dengan kemusyrikan bahkan berbenturan dengan ajaran
Islam itu sendiri, seperti Insyaf, Titipan Ilahi,
Hidayah, Rahasia Ilahi, Azab Ilahi, Kehendakmu,
Kebesaran Ilahi, dan yang sejenis lainnya.
Solusi
Maka dari itu remaja harus menjadi prioritas
pembinaan, Abdullah Nashih Ulwan memberikan marhalah
dalam rangka tarbiyyah remaja ini, yaitu :
1.Pendidikan keimanan
2.Pendidikan moral
3.Pengembangan fisik
4.Pengembangan akal
5.Stabilisasi kejiwaan
6.Pengenalan social.
Itulah beberapa hal yang harus menjadi perhatian bagi
remaja sehingga tidak tergelincir kepada hal hal
yang dapat menghancurkan dirinya.
Perlu dipikirkan sistem dawah yang memiliki spektrum
dawah yang lebih luas dan konprehensif, bukan
semata-mata dawah satu arah hanya dari mimbar ke
mimbar atau hanya puas dengan pengajian, tetapi harus
diciptakan dawah yang dapat menimbulkan penyebaran
lebih luas, misalnya, dawah sosial, dawah Kultural
ini dari sisi sistem namun juga perlu dipikirkan pula
SDMnya (Sumber Daya Mubalighnya), harus ada parameter
SDM yang menjadikan seseorang layak dan tidak layak
untuk terjun dalam dunia dawah, artinya bahwa dawah
harus diwujudkan secara professional.
Label: Umum