Dynamic Blinkie Text Generator at TextSpace.net

Cuap Remaja

Anda Remaja Ke:

Website counter

Kamis, 16 April 2009

PARTISIPASI REMAJA PADA POLITIK

Partisipasi Politik Remaja Belum Dipandang Penting

Tren remaja yang saat ini lebih banyak mengarah pada kehidupan glamour, modern dan populis menyebabkan remaja cenderung untuk bertambah sinis terhadap politisi, partai politik dan proses demokrasi di Indonesia, sehingga kegiatan yang berbau politik kurang diminati. Selain itu, tidak diakomodirnya partisipasi remaja dalam partisipasi publik membuat remaja tidak melek politik.
Pendapat ini disampaikan Ketua Umum Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) Lily Rilantono dalam pembukaan proyek rintisan Parlemen Remaja Indonesia yang mengikutsertakan 50 siswa SLTA se-Jakarta. Proyek rintisan ini bertujuan untuk melembagakan, mendidik serta meningkatkan kemampuan remaja Indonesia agar mengetahui se-luk beluk demokrasi.
”Program ini merupakan proses pembelajaran demokrasi yang bertujuan untuk menggabungkan remaja yang kritis dan melek politik sehingga pada saatnya nanti akan memperkuat partisipasi publik dalam proses demokrasi,” ujar Lily.
Program Parlemen Remaja Indonesia ini merupakan kegiatan pembelajaran melalui pengalaman dalam bentuk simulasi DPR, pemberian pemahaman pada siswa tentang proses pembuatan kebijakan publik serta institusi pendukungnya. Siswa juga akan mendapat pengajaran melalui proses pemilihan orientasi, sidang umum, evaluasi. Selain itu, diharapakan siswa paham tentang pentingnya pengetahuan berdebat dan bernegosiasi dan pentingnya keterlibatan siswa berpolitik.
Sebuah focus grup discusion yang diselenggarakan oleh National Democratic Institue (NDI) mengindikasikan para remaja saat ini bertambah sinis terhadap patai politik, elite politik dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
”Kami ingin membangun kepeercayaan remaja terhadap kehidupan politik kita. Kenapa mereka sinis? Karena memang tidak pernah dilibatkan, termasuk untuk keputusan yang menyangkut kepentingan mereka sendiri seperti pendidikan. Hal seperti ini tidak diakomodir oleh negara, padahal mereka adalah potensial dilibatkan sebagai pemilih pemula dalam pemilu,” ujar Sadli Komara, Program Officer NDI.
YKAI dan NDI mengharapkan program Parlemen Remaja Indonesia ini akan diakomodir oleh Departemen Pendidikan Nasional sebagai program rutin yang diterapkan dalam kurikulum nasional. ”Kalau tidak kita mulai dengan acara ini, pemahaman politik remaja tidak akan muncul,” tambah Sadli.
Remaja sendiri merasa hingga saat ini masih belum dipandang sebagai salah satu pelaku politik yang penting. ”Sebetulnya kita ingin terlibat, tetapi bagaimana? Mereka saja yang saat ini di parlemen seperti yang diungkapkan Gus Dur (Mantan Presiden Abdurrahman Wahid-red) seperti Taman Kanak-kanak. Anggota DPR saat ini belum melayani semua rakyat Indonesia, tetapi baru sebagian masyarakat. Pelajar seperti kami belum dilibatkan,” ujar Pepy Alvita Afifaf, pelajar SMU 8 Jakarta.
(Di adaptasi dari Sinar Harapan)

0 Comments:

Post a Comment