Cuap Remaja
Sabtu, 28 Maret 2009
Permasalahan Remaja
Oleh Lilly H. Setiono
Team e-psikologi
Bagi sebagian besar orang yang baru berangkat dewasa bahkan yang sudah melewati usia dewasa, remaja adalah waktu yang paling berkesan dalam hidup mereka. Kenangan terhadap saat remaja merupakan kenangan yang tidak mudah dilupakan, sebaik atau seburuk apapun saat itu. Sementara banyak orangtua yang memiliki anak berusia remaja merasakan bahwa usia remaja adalah waktu yang sulit. Banyak konflik yang dihadapi oleh orangtua dan remaja itu sendiri. Banyak orangtua yang tetap menganggap anak remaja mereka masih perlu dilindungi dengan ketat sebab di mata orangtua para anak remaja mereka masih belum siap menghadapi tantangan dunia orang dewasa. Sebaliknya, bagi para remaja, tuntutan internal membawa mereka pada keinginan untuk mencari jatidiri yang mandiri dari pengaruh orangtua. Keduanya memiliki kesamaan yang jelas: remaja adalah waktu yang kritis sebelum menghadapi hidup sebagai orang dewasa.
Sebetulnya, apa yang terjadi sehingga remaja merupakan memiliki dunia tersendiri. Mengapa para remaja seringkali merasa tidak dimengerti dan tidak diterima oleh lingkungan sekitarnya?. Mengapa remaja seolah-olah memiliki masalah unik dan tidak mudah dipahami?
Masa Remaja
Masa remaja merupakan sebuah periode dalam kehidupan manusia yang batasannya usia maupun peranannya seringkali tidak terlalu jelas. Pubertas yang dahulu dianggap sebagai tanda awal keremajaan ternyata tidak lagi valid sebagai patokan atau batasan untuk pengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada akhir usia belasan (15-18) kini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Seorang anak berusia 10 tahun mungkin saja sudah (atau sedang) mengalami pubertas namun tidak berarti ia sudah bisa dikatakan sebagai remaja dan sudah siap menghadapi dunia orang dewasa. Ia belum siap menghadapi dunia nyata orang dewasa, meski di saat yang sama ia juga bukan anak-anak lagi. Berbeda dengan balita yang perkembangannya dengan jelas dapat diukur, remaja hampir tidak memiliki pola perkembangan yang pasti. Dalam perkembangannya seringkali mereka menjadi bingung karena kadang-kadang diperlakukan sebagai anak-anak tetapi di lain waktu mereka dituntut untuk bersikap mandiri dan dewasa.
Memang banyak perubahan pada diri seseorang sebagai tanda keremajaan, namun seringkali perubahan itu hanya merupakan suatu tanda-tanda fisik dan bukan sebagai pengesahan akan keremajaan seseorang. Namun satu hal yang pasti, konflik yang dihadapi oleh remaja semakin kompleks seiring dengan perubahan pada berbagai dimensi kehidupan dalam diri mereka. Untuk dapat memhami remaja, maka perlu dilihat berdasarkan perubahan pada dimensi-dimensi tersebut.
Dimensi Biologis
Pada saat seorang anak memasuki masa pubertas yang ditandai dengan menstruasi pertama pada remaja putri atau pun perubahan suara pada remaja putra, secara biologis dia mengalami perubahan yang sangat besar. Pubertas menjadikan seorang anak tiba-tiba memiliki kemampuan untuk ber-reproduksi.
Pada masa pubertas, hormon seseorang menjadi aktif dalam memproduksi dua jenis hormon (gonadotrophins atau gonadotrophic hormones) yang berhubungan dengan pertumbuhan, yaitu: 1) Follicle-Stimulating Hormone (FSH); dan 2). Luteinizing Hormone (LH). Pada anak perempuan, kedua hormon tersebut merangsang pertumbuhan estrogen dan progesterone: dua jenis hormon kewanitaan. Pada anak lelaki, Luteinizing Hormone yang juga dinamakan Interstitial-Cell Stimulating Hormone (ICSH) merangsang pertumbuhan testosterone. Pertumbuhan secara cepat dari hormon-hormon tersebut di atas merubah sistem biologis seorang anak. Anak perempuan akan mendapat menstruasi, sebagai pertanda bahwa sistem reproduksinya sudah aktif. Selain itu terjadi juga perubahan fisik seperti payudara mulai berkembang, dll. Anak lelaki mulai memperlihatkan perubahan dalam suara, otot, dan fisik lainnya yang berhubungan dengan tumbuhnya hormon testosterone. Bentuk fisik mereka akan berubah secara cepat sejak awal pubertas dan akan membawa mereka pada dunia remaja.
Dimensi Kognitif
Perkembangan kognitif remaja, dalam pandangan Jean Piaget (seorang ahli perkembangan kognitif) merupakan periode terakhir dan tertinggi dalam tahap pertumbuhan operasi formal (period of formal operations). Pada periode ini, idealnya para remaja sudah memiliki pola pikir sendiri dalam usaha memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan abstrak. Kemampuan berpikir para remaja berkembang sedemikian rupa sehingga mereka dengan mudah dapat membayangkan banyak alternatif pemecahan masalah beserta kemungkinan akibat atau hasilnya. Kapasitas berpikir secara logis dan abstrak mereka berkembang sehingga mereka mampu berpikir multi-dimensi seperti ilmuwan. Para remaja tidak lagi menerima informasi apa adanya, tetapi mereka akan memproses informasi itu serta mengadaptasikannya dengan pemikiran mereka sendiri. Mereka juga mampu mengintegrasikan pengalaman masa lalu dan sekarang untuk ditransformasikan menjadi konklusi, prediksi, dan rencana untuk masa depan. Dengan kemampuan operasional formal ini, para remaja mampu mengadaptasikan diri dengan lingkungan sekitar mereka.
Pada kenyataan, di negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih sangat banyak remaja (bahkan orang dewasa) yang belum mampu sepenuhnya mencapai tahap perkembangan kognitif operasional formal ini. Sebagian masih tertinggal pada tahap perkembangan sebelumnya, yaitu operasional konkrit, dimana pola pikir yang digunakan masih sangat sederhana dan belum mampu melihat masalah dari berbagai dimensi. Hal ini bisa saja diakibatkan sistem pendidikan di Indonesia yang tidak banyak menggunakan metode belajar-mengajar satu arah (ceramah) dan kurangnya perhatian pada pengembangan cara berpikir anak. penyebab lainnya bisa juga diakibatkan oleh pola asuh orangtua yang cenderung masih memperlakukan remaja sebagai anak-anak, sehingga anak tidak memiliki keleluasan dalam memenuhi tugas perkembangan sesuai dengan usia dan mentalnya. Semestinya, seorang remaja sudah harus mampu mencapai tahap pemikiran abstrak supaya saat mereka lulus sekolah menengah, sudah terbiasa berpikir kritis dan mampu untuk menganalisis masalah dan mencari solusi terbaik.
Dimensi Moral
Masa remaja adalah periode dimana seseorang mulai bertanya-tanya mengenai berbagai fenomena yang terjadi di lingkungan sekitarnya sebagai dasar bagi pembentukan nilai diri mereka. Elliot Turiel (1978) menyatakan bahwa para remaja mulai membuat penilaian tersendiri dalam menghadapi masalah-masalah populer yang berkenaan dengan lingkungan mereka, misalnya: politik, kemanusiaan, perang, keadaan sosial, dsb. Remaja tidak lagi menerima hasil pemikiran yang kaku, sederhana, dan absolut yang diberikan pada mereka selama ini tanpa bantahan. Remaja mulai mempertanyakan keabsahan pemikiran yang ada dan mempertimbangan lebih banyak alternatif lainnya. Secara kritis, remaja akan lebih banyak melakukan pengamatan keluar dan membandingkannya dengan hal-hal yang selama ini diajarkan dan ditanamkan kepadanya. Sebagian besar para remaja mulai melihat adanya “kenyataan” lain di luar dari yang selama ini diketahui dan dipercayainya. Ia akan melihat bahwa ada banyak aspek dalam melihat hidup dan beragam jenis pemikiran yang lain. Baginya dunia menjadi lebih luas dan seringkali membingungkan, terutama jika ia terbiasa dididik dalam suatu lingkungan tertentu saja selama masa kanak-kanak.
Kemampuan berpikir dalam dimensi moral (moral reasoning) pada remaja berkembang karena mereka mulai melihat adanya kejanggalan dan ketidakseimbangan antara yang mereka percayai dahulu dengan kenyataan yang ada di sekitarnya. Mereka lalu merasa perlu mempertanyakan dan merekonstruksi pola pikir dengan “kenyataan” yang baru. Perubahan inilah yang seringkali mendasari sikap "pemberontakan" remaja terhadap peraturan atau otoritas yang selama ini diterima bulat-bulat. Misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja ia akan mempertanyakan mengapa dunia sekelilingnya membiarkan korupsi itu tumbuh subur bahkan sangat mungkin korupsi itu dinilai baik dalam suatu kondisi tertentu. Hal ini tentu saja akan menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya. Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai yang ditanamkan oleh orangtua atau pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan sekitarnya tidak mendukung penerapan nilai-nilai tersebut.
Peranan orangtua atau pendidik amatlah besar dalam memberikan alternatif jawaban dari hal-hal yang dipertanyakan oleh putra-putri remajanya. Orangtua yang bijak akan memberikan lebih dari satu jawaban dan alternatif supaya remaja itu bisa berpikir lebih jauh dan memilih yang terbaik. Orangtua yang tidak mampu memberikan penjelasan dengan bijak dan bersikap kaku akan membuat sang remaja tambah bingung. Remaja tersebut akan mencari jawaban di luar lingkaran orangtua dan nilai yang dianutnya. Ini bisa menjadi berbahaya jika “lingkungan baru” memberi jawaban yang tidak diinginkan atau bertentangan dengan yang diberikan oleh orangtua. Konflik dengan orangtua mungkin akan mulai menajam. (Baca juga artikel: Perkembangan Moral)
Dimensi Psikologis
Masa remaja merupakan masa yang penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi Csikszentmihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan mood (swing) yang drastis pada para remaja ini seringkali dikarenakan beban pekerjaan rumah, pekerjaan sekolah, atau kegiatan sehari-hari di rumah. Meski mood remaja yang mudah berubah-ubah dengan cepat, hal tersebut belum tentu merupakan gejala atau masalah psikologis.
Dalam hal kesadaran diri, pada masa remaja para remaja mengalami perubahan yang dramatis dalam kesadaran diri mereka (self-awareness). Mereka sangat rentan terhadap pendapat orang lain karena mereka menganggap bahwa orang lain sangat mengagumi atau selalu mengkritik mereka seperti mereka mengagumi atau mengkritik diri mereka sendiri. Anggapan itu membuat remaja sangat memperhatikan diri mereka dan citra yang direfleksikan (self-image). Remaja cenderung untuk menganggap diri mereka sangat unik dan bahkan percaya keunikan mereka akan berakhir dengan kesuksesan dan ketenaran. Remaja putri akan bersolek berjam-jam di hadapan cermin karena ia percaya orang akan melirik dan tertarik pada kecantikannya, sedang remaja putra akan membayangkan dirinya dikagumi lawan jenisnya jika ia terlihat unik dan “hebat”. Pada usia 16 tahun ke atas, keeksentrikan remaja akan berkurang dengan sendirinya jika ia sering dihadapkan dengan dunia nyata. Pada saat itu, Remaja akan mulai sadar bahwa orang lain tenyata memiliki dunia tersendiri dan tidak selalu sama dengan yang dihadapi atau pun dipikirkannya. Anggapan remaja bahwa mereka selalu diperhatikan oleh orang lain kemudian menjadi tidak berdasar. Pada saat inilah, remaja mulai dihadapkan dengan realita dan tantangan untuk menyesuaikan impian dan angan-angan mereka dengan kenyataan.
Para remaja juga sering menganggap diri mereka serba mampu, sehingga seringkali mereka terlihat “tidak memikirkan akibat” dari perbuatan mereka. Tindakan impulsif sering dilakukan; sebagian karena mereka tidak sadar dan belum biasa memperhitungkan akibat jangka pendek atau jangka panjang. Remaja yang diberi kesempatan untuk mempertangung-jawabkan perbuatan mereka, akan tumbuh menjadi orang dewasa yang lebih berhati-hati, lebih percaya-diri, dan mampu bertanggung-jawab. Rasa percaya diri dan rasa tanggung-jawab inilah yang sangat dibutuhkan sebagai dasar pembentukan jati-diri positif pada remaja. Kelak, ia akan tumbuh dengan penilaian positif pada diri sendiri dan rasa hormat pada orang lain dan lingkungan. Bimbingan orang yang lebih tua sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai acuan bagaimana menghadapi masalah itu sebagai “seseorang yang baru”; berbagai nasihat dan berbagai cara akan dicari untuk dicobanya. Remaja akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh para “idola”nya untuk menyelesaikan masalah seperti itu. Pemilihan idola ini juga akan menjadi sangat penting bagi remaja. (Baca juga artikel: Remaja & Tokoh Idola)
Salah satu topik yang paling sering dipertanyakan oleh individu pada masa remaja adalah masalah "Siapakah Saya?" Pertanyaan itu sah dan normal adanya karena pada masa ini kesadaran diri (self-awareness) mereka sudah mulai berkembang dan mengalami banyak sekali perubahan. Remaja mulai merasakan bahwa “ia bisa berbeda” dengan orangtuanya dan memang ada remaja yang ingin mencoba berbeda. Inipun hal yang normal karena remaja dihadapkan pada banyak pilihan. Karenanya, tidaklah mengherankan bila remaja selalu berubah dan ingin selalu mencoba – baik dalam peran sosial maupun dalam perbuatan. Contoh: anak seorang insinyur bisa saja ingin menjadi seorang dokter karena tidak mau melanjutkan atau mengikuti jejak ayahnya. Ia akan mencari idola seorang dokter yang sukses dan berusaha menyerupainya dalam tingkahlaku. Bila ia merasakan peran itu tidak sesuai, remaja akan dengan cepat mengganti peran lain yang dirasakannya “akan lebih sesuai”. Begitu seterusnya sampai ia menemukan peran yang ia rasakan “sangat pas” dengan dirinya. Proses “mencoba peran” ini merupakan proses pembentukan jati-diri yang sehat dan juga sangat normal. Tujuannya sangat sederhana; ia ingin menemukan jati-diri atau identitasnya sendiri. Ia tidak mau hanya menurut begitu saja keingingan orangtuanya tanpa pemikiran yang lebih jauh.
Banyak orangtua khawatir jika “percobaan peran” ini menjadi berbahaya. Kekhawatiran itu memang memiliki dasar yang kuat. Dalam proses “percobaan peran” biasanya orangtua tidak dilibatkan, kebanyakan karena remaja takut jika orangtua mereka tidak menyetujui, tidak menyenangi, atau malah menjadi sangat kuatir. Sebaliknya, orangtua menjadi kehilangan pegangan karena mereka tiba-tiba tidak lagi memiliki kontrol terhadap anak remaja mereka. Pada saat inilah, kehilangan komunikasi antara remaja dan orangtuanya mulai terlihat. Orangtua dan remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa yang berbeda sehingga salah paham sangat mungkin terjadi.
Salah satu upaya lain para remaja untuk mengetahui diri mereka sendiri adalah melalui test-test psikologis, atau yang di kenal sebagai tes minat dan bakat. Test ini menyangkut tes kepribadian, tes intelegensi, dan tes minat. Psikolog umumnya dilatih untuk menggunakan alat tes itu. Alat tes yang saat ini umum diberikan oleh psikolog di Indonesia adalah WISC, TAT, MMPI, Stanford-Binet, MBTI, dan lain-lain. Alat-alat tes juga beredar luas dan dapat ditemukan di toko buku atau melalui internet; misalnya tes kepribadian.
Walau terlihat sederhana, dampak dari hasil test tersebut akan sangat luas. Alat test psikologi dapat diibaratkan sebuah pisau lipat yang terlihat sekilas tidak berbahaya; namun di tangan orang yang “bukan ahlinya” atau yang kurang bertanggung-jawab, alat ini akan menjadi sangat berbahaya. Alat test jika diinterpretasikan secara salah atau tidak secara menyeluruh oleh orang yang tidak berpengalaman atau tidak memiliki dasar ilmu yang cukup untuk mengartikan secara obyektif akan membuat kebingungan dan malah membawa efek negatif. Akibatnya, para remaja akan merasa lebih bingung dan lebih tidak merasa yakin akan hasil tes tersebut. Oleh karena itu sangatlah dianjurkan untuk mencari psikolog yang memang sudah terbiasa memberikan test psikologi dan memiliki Surat Rekomendasi Ijin Praktek (SRIP), sehingga dapat menjamin obyektivitas test tersebut.
Satu hal yang perlu diingat adalah hasil test psikologi untuk remaja sebaiknya tidak ditelah mentah-mentah atau dijadikan patokan yang baku mengingta bahwa masa remaja meruipakan masa yang snagat erat dengan perubahan. Alat test ini tidak semestinya dijadikan buku primbon atau acuan kaku dalam penentuan langkah untuk masa depan, misalnya dalam mencari sekolah atau mencari karir yang cocok. Seringkali, seiring dengan perkembangan remaja dan perubahan lingkungan sekitarnya, konklusi yang diterima dari hasil test bisa berubah dan menjadi tidak relevan lagi. Hal ini wajar mengingat bahwa minat seorang remaja sangat labil dan mudah berubah.
Sehubungan dengan explorasi diri melalui internet atau media massa yang lain, remaja hendaknya berhati-hati dalam menginterpretasikan hasil-hasil yang di dapat dari test-test psikologi online melalui internet. Harap diingat bahwa banyak diantara test tersebut masih sebatas ujicoba dan belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Selain itu dibutuhkan kejujuran untuk mampu menerima diri apa adanya sehingga remaja tidak mengembangkan identitas "virtual" yang berbeda dengan diri yang asli. (baca juga artikel: Explorasi Diri Melalui Internet)
Selain beberapa dimensi yang telah disebutkan diatas, masih ada dimensi-dimensi yang lain dalam kehidupan remaja yang belum sempat dibahas dalam artikel ini. Salah satu dari dimensi tersebut diantaranya adalah dimensi sosial.
Tip untuk Orangtua
Dalam kebudayaan timur, masih banyak orangtua yang menganggap anak adalah milik orangtua, padahal seperti yang dituliskan oleh Khalil Gibran: Anak Hanya Titipan Sang Pencipta. Ia bukan kepanjangan tangan orangtua. Ia berhak memiliki kehidupannya sendiri, menentukan apa yang terbaik bagi dirinya. Tentu saja peran orangtua sangat besar sebagai pembimbing. Dalam usia remaja, kemampuan penentuan diri inilah yang semestinya dilatih. Remaja seperti juga semua manusia lainnya – belajar dari kesalahan. Bagi para orangtua ada baiknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
*
Mulailah menganggap anak remaja sebagai teman dan akuilah ia sebagai orang yang akan berangkat dewasa. Seringkali orangtua tetap memperlakukan anak remaja mereka seperti anak kecil, meskipun mereka sudah berusaha menunjukkan bahwa keberadaan mereka sebagai calon orang dewasa.
*
Hargai perbedaan pendapat dan ajaklah berdiskusi secara terbuka. Nasihat yang berbentuk teguran atau yang berkesan menggurui akan tidak seefektif forum diskusi terbuka. Tidak ada yang lebih dihargai oleh para remaja selain sosok orangtua bijak yang bisa dijadikan teman.
*
Tetaplah tegas pada nilai yang anda anut walaupun anak remaja anda mungkin memiliki pendapat dan nilai yang berbeda. Biarkan nilai anda menjadi jangkar yang kokoh di mana anak remaja anda bisa berpegang kembali setelah mereka lelah membedakan dan mempertanyakan alternatif nilai yang lain. Larangan yang kaku mungkin malah akan menyebabkan sikap pemberontakan dalam diri anak anda.
*
Jangan malu atau takut berbagi masa remaja anda sendiri. Biarkan mereka mendengar dan belajar apa yang mendasari perkembangan diri anda dari pengalaman anda. Pada dasarnya, tidak ada anak remaja yang ingin kehilangan orangtuanya.
*
Mengertilah bahwa masa remaja untuk anak anda adalah masa yang sulit. Perubahan mood sering terjadi dalam durasi waktu yang pendek, jadi anda tidak perlu panik jika anak remaja anda yang biasanya riang tiba-tiba bisa murung dan menangis lalu tak lama kemudian kembali riang tanpa sebab yang jelas.
*
Jangan terkejut jika anak anda bereksperimen dengan banyak hal, misalnya mencat rambutnya menjadi biru atau ungu, memakai pakaian serba sobek, atau tiba-tiba ber bungee-jumping ria. Selama hal-hal itu tidak membahayakan, mereka layak mencoba masuk ke dalam dunia yang berbeda dengan dunia mereka saat ini. Berikanlah ruang pada mereka untuk mencoba berbagai peran yang cocok bagi masa depan mereka. Ada remaja yang menurut tanpa membantah keinginan orangtua mereka dalam menentukan peran mereka, misalnya jika kakek sudah dokter, ayah dokter, kelak iapun “diharapkan dan disiapkan” untuk menjadi dokter pula. Namun ada juga anak remaja yang memang tidak ingin masuk ke dalam dunia yang sama dengan orangtua mereka. Dalam hal ini janganlah memaksakan anak mengikuti kehendak orangtua. Seperti Kahlil Gibran ….anak hanya titipan, ia milik masa depan dan kita milik masa lalu.
*
Kenali teman-teman anak remaja anda. Bertemanlah dengan mereka jika itu memungkinkan. Namun waspadalah jika anak anda sangat tertutup dengan dunia remajanya. Mungkin ia tidak/ kurang mempercayai anda atau ada yang disembunyikannya.
Label: Umum
Remaja, Antara Agama Dan Budaya
Tema artikel kali ini yaitu Remaja Antara Agama Dan Budaya . Friends!! Maafin yach klo neeh artikel ada penyampaian yang kurang bagus atawa banyak bercanda maklumlah masih Amatir .
Remaja Antara Agama Dan Budaya
Kita akan ulas dulu yach friends, Tentang Apasih Yang Dimaksud Dengan Remaja ok ,! Kita ulangi . Remaja Adalah Masa Peraliahan Dari Anak - anak menuju dewasa atawa ada nyang nyebutin ,klo remaja merupakan masa dimana seseorang mengoptimalkan (proses) Pertumbuhan baik secara fisik atawa mental friends!!!
Bicara soal agama dan budaya yang udah kelewat jauh dari norma norma yang di tunjukkan ama remaja di Indonesia ini friends . kita harus prihatin dengan pergaulan dikalangan remaja seperti kita ini (maaf yang kakek 2 jangan tersungging yaaa achimmm ¦ ) yang menunjukkan dominasi budaya barat pada kehidupan remaja pada zaman yang melarat moral ini. Kehidupan remaja yang tidak disertai dengan religion education terutama islam as our religion (mungkin tidak hanya islam )sebagai agama yang menjunjung asas moral yang baik dan tidak adanya perhatian dari orang tua yang khususnya mendidik seorang anak menjadi bermoral dan menjadikan pola fikir yang luas bagi anaknya ,dan Membuka celah bagi budaya barat untuk masuk kepada budaya yang bermoral ini yang di punyai bangsa kita. kita tahu semua Negara masuk dalam persaingan global yang menuntun kita pada persaingan ekonomi , budaya , pertahanan ,dll . Negara barat yang notabene Negara maju sedikit demi sedikit mengkontaminasi (sebagai pendongkrak sains , ekonomi ,dll) termasuk budaya juga yang dikontaminasikan Negara2 barat kepada kita sebagai Negara yang berkembang ataupun Negara yang lain yang mempunyai nasib sama seperti kita. Kita sadar gak seeh kepada budaya kita friends? Kemana arah pergaulan kita yang benar friends! pada sadar gak seeh budaya kita ini lebih baik dari orang 2 sana barat meskipun pemikiran kita tidak semaju mereka aa !!! sadar donk friends !!!!! Kita patut sebagai remaja mengagumi barat dengan ilmunya bukan dengan pergaulan buruknyanya .!?$%^ karena kita mempunyai tingkat moral yang tinggi, karena kita mempunyai edukasi yang luas .(huuh..huuh…huuh..sampe marah neeh ) meskipun begitu tapi ada juga kan contoh dari budaya barat yang bagus dan patut kita contoh .
Gak jarang seeh remaja indonesia khususnya seperti saya sebagai remaja yang modern (hee…hee…) sering terpengaruh dalam kehidupan remaja yang serba di penuhi dengan kebobrokan moral ini . kaya di warnet (warung internet)yang dimanfaatkan banyak remaja laki 2 khususnya untuk melihat informasi yang gak jelas baik itu porn movie atawa sering di TV - TV dengan disambungkan ke DVD/VCD dan dengan hanya mengeluarakan Rp 5000,- dapet porn movie Bajakaaan Pula , miskin gak tuuhh . Untungnya pemerintah baru - baru ini memperhatikan remaja seperti kita dengan membuat peraturan klo gak salah neeh tentang pengaturan moral gitu deeh yang di tujukan pada remaja Indonesia yang mengketatkan pendidikan moral dank lo ada yang ngelanggar dapet plus ..pluss dari pak polisi tapi saya gak tau pasti tentang peraturan itu apakah hanya sebagai symbol saja atau di terapkan secara serius. ok ! saya lupa bilangin neeh syarat 2 saya sudah di penuhi blum yang ane buat pada artikel yang lalu hee hee.???
Ok!deh friends yang tetap spirit dan yang ingin menginginkan perubahan mungkin dari tadi kliatannya boring neeh sambil bengong di depan monitor hee…heee but relaxxxx aja yach friend klo ngantuk minum kopinya dulu…
Saya akan menjelaskan salahsatu contohpergaulan barat yang banyak terjadi dan menyebar kepada remaja khususnya di Indonesia ini . eneeneehh contohnya satu aja yachhhhhhhhhhhhh
Pacaran
Banyak orang memiliki pandangan khususnya kita sebagai remaja bahwa pacaran merupakan proses dimana seseorang berlatih dalam kesetiaan , dalam kecintaan terhadap pasangannya tapi faktanya justru proses itu menjadi boomerang bagi temen 2 kita karena tidak jarang banyak yang menjadi korban atas proses ini bukan ! ok lah kita anggap pacaran suatu proses yang baik tapi apakah itu mempunyai manfaat yang mendidik untuk diri kita pikir skali lagi deh friends. susah emmang menjadi orang yang tidak punya pacar pasangan tapiii sabarrrr kita sebagai remaja tentu merasakan kerinduan kepada lawan jenis yang kita sukai , itu smua wajar karena teman teman tahu pacaran klo difikir2 lebih banyak mudharatnya alias kerusakan ketimbang manfaatnya . saya tau dehh soal remaja saya kan remaja juga masih muda lagi , baik lagi ,ramah lagi? Kok malah promosiin diri tapi klo ada yang beminat boleh aja ..! becanda gak usah dipikirin
Saya kutip dari judul buku Human Development yang dikarang oleh Diane E. Papalia and Sally wenkos olds mengungkapkan beberapa jenis cinta Salah satunya INFATUATION . Secara Sederhana INFATUATION Bangkit Karena ketertarikan fisik atau dorongan sexsual Virus infatuation inilah yang ada dalam budaya eropa yang menyebar keseluruh otak manusia yang ada di semua belahan dunia dengan pergaulan yang bebas secara fisik mempengaruhi banyak orang untuk melakukannya termasuk di Indonesia . Tidak kita sangka Indonesia yang mayoritas berpenduduk muslim akan terpengaruh dengan hal semacam iiituuuuuu…. Gak nyang …kaa..aaa Apakah Serendah itu kita memandang cinta??? sungguh terr…laaâ …luu
Hampir semua orang yang terkena virus cinta tadi terkena akibat tumbuhnya kebiasaan melihat seseorang secara physically ,bentuk hidung ,bibir, body , rambut dan lainnya hee…hhee dasar hidung macan ehh salah hidung belang !!.Cinta yang menjangkit remaja inilah yang rentan adanya penyimpangan. banyak sekali penyimpangan akibat pacaran di Indonesia kadang cinta jenis ini yang kaya dengan kemaksiatan dan menyesatkan remaja muslim atawa remaja agama lain di indonesia.. ada baiknya friends kita sebagai remaja melihat survey yang dilakukan pada tahun 2003 surveynya udah tua neeh udah kadarluarsaaa….. yang dilakukan oleh DETEKSI (Jawa pos ) pada bulan mei. Suvey ini dilakukanl, udah basi dan sebanggg saaanyaaa…..dilakukan untuk mengungkap kehidupan bebas para remaja ,yang dilakukan di jakarta dan di Surabaya .dengan koresponden sebesar 1.522 orang. hasilnya adalah sebagai berikut :
QUESTION 1 : PERNAH HUBUNGAN SEKS DILUAR NIKAH?
PLACE : JAKARTA
ANSWER : Sebesar 89,1% menjawab tidak
Sebesar 10,9% menjawab pernah
PLACE :SURABAYA
ANSWER : Sebesar 87,% menjawab tidak
Sebesar 12,4% menjawab pernah
QUESTION 2 : PERNAH HUBUNGAN SEKS MULAI UMUR
PLACE : JAKARTA
KORESPONDEN :17 th, 18 th ,19 th
ANSWER : 17 th Sebesar : 0 %
18 th Sebesar :27,4%
19 th Sebesar : 13,2%
PLACE : SURABAYA
KORESPONDEN : 17 th , 18 th , 19 th
ANSWER : 17 th Sebesar : 20,3%
18 th sebesar : 23,7%
19 th sebesar : 15,3%
Parah juga khan friends ! itu juga tahun 2003 gimana survey tahun 2008.2009,2010….???????
Haah..hiih..huuhh susah juga yach jadi remaja zaman sekarang banyak goo…daa…an padahal klo kita kembali pada agama kita , kita akan sadar apakah ada agama yang tidak mengajarkan moralitas ..? friends, saya ambil contoh dari suatu sejarah islam dimana pada saat itu pada zaman di sutu negeri Nabi Luth.AS, yach klo gak salah yach! Terjadi pada zaman itu kehancuran moral terjadi pada sebuah negeri / kota yang dinamakan kota Sodom dan pada kaum Sodom dimana perlakuan menyukai sesama jenis kemudian berhubungan sex secara bebas, dll yang menyangkut tentang kehancuran moral ada dan terjadi pada saat itu yang tidak terkendali . kemudian Allah .swt menghancurkan kota itu bersama para malaikatnya terbukti dalam surat al - ankabuut allah berfirman :
“Dan tatkala utusan kami ( para malaikat ) datang kepada Ibrahim datang membawa kabar genbira mereka mengatakan :”sesungguhnya kami akan menghancurkan penduduk negeri (Sodom )ini. Sesungguhnya penduduknya adalah orang - orang yang zalim .”(QS.Al- ankabuut:31)
Nahh..looo friends pengen gak kaya negeri Sodom tadi menjadi orang - orang yang zalim!!.friends! klo pengen kaya kaum Sodom kayak tadi yahh silahkann moonggooo , klo tidak syu
kurlah berarti udah sadar hee..hee.. klo pengen tahu/tempe (jadi laperrr) lagi tentang negeri Sodom tadi beli aja vcd yang banyak edukasinya karya Harun Yahya ilmuan asal turki kayaknya seeh masih ada kok di toko material terdekat ehh salah toko cd terdekat !!
Ok ! semoga teman - teman bisa mengambil manfaat dari ayat tadi yach!!
Klo kita lanjutin !!!! ngemenk - ngemenk soal pacaarann apasih untungnya apakah lebih banyak manfaatnya ketimbang buruknya atawa sebaliknya. coba kita secara logis memikirkan hal itu
1. Mendekatkan diri pada perbuatan zinah
Mr faq’s question : Setuju gak friends ama opini ini?
Mr faq’s answer : setoojooooooooooooooooo!!!!!
Tuh khan setuju pastinya yang jawab saya sendiri achiimm. Emang yach klo di lihat temen 2 kita khususnya laki 2 bawaannya udah ehheem gimanaaa gitu ama pacarnya tau sendirilah tapi gak semua seeh kaya gitu. tapi gak jarang juga perempuannya itu (pacar ) jugaa ………ama pacarnya. kita tahu sebagai remaja timbul adanya kegoyahan mental yang mendorong remaja untuk melakukan hal 2 yang baru seperti perbuatan zinah tersebut timbulnya sex bebas yang dipacu oleh pengembangan teknologi seperi lewat VCD dan antek - anteknya like DVD and many others again, internet untuk melihat hal 2 yang berbau pornografi dan remaja laki 2 khsususnya buaanyaaakk seribukali …. semilyarkali ….setriliyunkali yang kena dampaknya yang pasti akan berdampak juga pada perempuan sebagai korbannya .
Ok-lah friends ! saya menulis tentang antipacaran bukan berarti saya anti benar dalam budaya pacaran saya masih Rada - rada setooojooo dengan pacaran kok!!! tapi pacaran yang bagaimana dulu pacaran kaya ginineeh : gak boleh berduaan .. gak boleh bersentuhan ..gak boleh cubit - citan ..gak boleh bercanda 2 an (hee…hee…itu bukan pacaran yach )
Yach intinya friends saya gak memungkiri untuk berpacaran slama masih dalam tembok agama dan moral yang terjaga dalam diri . ok lanjutin gak neeh ngemenk - ngemenk tema ini kayanya gak cocok ama pembahasannya soalnya saya bingung pengen ngasih tema apa .
2. Mengganggu konsentrasi belajar kita
Sebenarnya nyang seperti ini neeh erat banget kaitannya ama pelajar, Memang hal yang satu ini tidak bisa kita pungkiri lagi apalagi di zaman modern seperti sekarang banyak diantara teman kita yang ketika masih dalam proses belajar menjadi kaga konsen coba deh friends kita koreksi diri kita lagi sudah berapa banyak waktu kita yang terbuang hanya untuk membicarakan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu penting, dan banyak pula diantara teman-teman kita yang pulsanya abizz karena eh karena di pake buatt SMS( he…he..he.. jadi ngomongin pulsa neeh) ama pacarnya, ehm..ehmmm “Wahai para pelajar Indonesia sadarlah bahwa kita sekarang ini dihadapkan pada suatu keadaan yang sulit BBM hendak naik kepuncak gunung (lagu kaleeee:), kita para generasi muda yang diharapkan mampu membuat negeri ini menjadi lebih baik aliass sejahtera eeh malah sibuk dengan segala kegiatan yang gaaaaa penting”
Truzz jadinya apa? Pelajar sekarang ini lebih banyak yang pinter basa-basi daripada pinter basa sunda atawa bahasa inggris yang nantinya akan sangat diperlukan dalam era globalisasi nah cemen-cemen ane bukannya bermaksud menggurui neeh tapi sekarang ini memang penting bagi kita2 mengingatkan dalam hal-hal kebaikan karena Mr. faqih sendiri sadar bahwa harus ada seseorang yang saling mengingatkan dalam hal kebaikan di tengah rusaknya moral para generasi muda oleh sebab itu pula Mr. faqih disini masih tetap exsist membuat blog ini (hee..he.. serious dikit nehh) nah friends berikut ini Ada sebuah contoh yang bisa dijadikan pelajaran bagi temen2 smuaa.
Bginjoi ceritana ketika teman saya mempunyai teman dan temannya itu mempunyai pacar yang kebetulan sama kelasnya dengan pacarnya (bingung2 deh loe), ketika terjadi masalah pada suatu hari dalam waktu jam istirahat tidak terlalu serius seeh tapi itu membuat teman saya blank pikirannya dalam suatu pelajaran yang dia kuasai dan itu terjadi bukan hanya 1deh—,2deh—,3deh—atau seterusnya yang ber akhiran “deh “hee..hee. Sayang banget khan friends udah pinter dalam mata pelajaran tersebut malah otaknya nge-hang gara 2 hal sepele kaya gitu . coba berfikir lagi gak ada bayangan pacar saat belajar otak juga akan lancar friends .. iya gak?? emang sih ya namanya remaja sukanya nyoba-nyoba ngeliat orang pacaran ikut-ikutan pacaran alhasil jadi makin besar peluang menimbulkan maksiat, ntar kalo udeh bosen aja baru deh putuss jadi dua kali dosa dehh, eh..eh banyak denk dari pada gitu mendingan kita gaak usah pacaran dulu deh kita konsentrasiin pikiran kita untuk belajar, meningkatkan prestasi, dan nge- banggain orang tua daripada harus nyakitin perasaan orang karena pada dasarnya remaja seperti kita ini hanya ikut-ikutan dalam hal pacaran tentunya dank arena ikut-ikutan dalam hal negatif itulah ujung-ujungnya bikin pusing ajaaa! Jadi sobat sekarang ini kita harus pinter2 menyaring hal-hal yang tidak baik bagi diri kita khususnya ( aduh.. jadi pegel neeh) tapi jangan boring dulu baca dulu lanjutannya ! ok! Kita gak mau khanmasa remaja kita dipake untuk hal yang sia- sia . dan semua kembali kepada temen 2 saya hanya mengingatkan bagi yang gak setuju skali lagi monggoooo Slama temen 2 bisa mengontrolnya haa…
3. Ngabisin duit
Sebagai laki 2 yang ingin terlihat pintar , baik dan tajir didepan pacar yang kita kagumi kadang memaksa kita untuk menafkahkan harta kita kepada sang pacar . neraktir inilah ..itulah… onolah…. Emangnya kita emaknya yang mau ngebeliin apa yang dia pengeniin bahkan ada suatu contoh yang parah yang sering kita temui ketika seorang pelajar yang mempunyai pacar (klo kita sebagai laki 2 pastinya pacar kita perempuan khan awass jangan ketukerrr..) menuntut kita sebagai pacarnya ingin di anter menggunakan motor yang keren ,sementara kita sebagai pacarnya belum punya motor lalu kita sebagai laki 2 yang dituntut ama pacar menuntut lagi kepada orang tua kita untuk membelikan kita sebuah motor yang keren karena notabene masyarakat Indonesia banyak yang miskin dan gak terpungkiri ada pada cerita tadi maka niscaya anak yang menuntut orang tuanya tadi untuk membeli motor putus harapan karena ortu gak punya uang dan k ‘lo gak ada motor pasti diputusin ama pacar tersayangnya dan akhirnya dia ambil tali , truz kunci kamar , iket tali ke suatu tiang , masukkan lingkaran tali ke leher lalu gantumg diri (tuh saya kasih tips seputar gantung diri hee,..hee..), dan niscaya anak tadi tewas karena gantung diri yang disebabkan karena persoalan motor aja . murah gak tuh jiwa kita dibandingin ama motor .udah mending kita dibiayaain ama orang tua untuk belajar disekolah nyusah - nyusahin orang tua aja .!!!SUKUR 2 KLO KAYA NAHH KLO ENGGAK !!! buktikan bahwa kita berprestasi buktiin dengan karya kita semangat belajar kita , dan prestasi kita dan bukan hal semacam contoh yang tadiiii iyaaa khan friends!!!
Sebagai remaja Modern pasti pada punya handphone khan ! kebanyakan pemborosan duit banyak abiz dari sini neeh bayangkan klo kita sms Cuma ngasih kata
Cayank apa kabar ?
Cayank dah makan blum ?
Cayank kamu minta dibangunin jam berapa ?
Achiiiiiiiiim sungguh..terr..laa..luu . mendingan di pake buat nabung bayangin sehari misalkan kita menghabiskan pulsa Rp 5000.- untuk hal yang gak bermanfaat kayak gitu kita hitung klo Rp 5000.-/hari berapa dalam seminggu?sebulan ?atau mungkin setahun ??????? tentunya lebih bermanfaat menabung ketimbang ZMZ-an yang gak jelas khan friends yaa gak? Bukan berarti mrfaq gak punya handphone curhat kayak ginee hee …tapi ini bener 2 banyak terjadikhan . sms - an boleh tapi ingatlah walaupun uang saku yang dikasih ortu cukup untuk beli pulsa ,jajan maupun yang lain minimal kita meminimalisir pengeluaran dengan cara menabung pasti ortu temen 2 gak slalu kaya dan pasti juga kita gak slalu mendapatkan uang saku yang slalu cukup pada setiap kebutuhan kita iyaakhan ! so, ketika ortu kita lagi sulit ekonominya dan pas waktukita ada kebutuhan misalnya beli buku kita gak perlu lagi tuh yang namanya minta duit ama papi and mami yang sedang susah apalagi uang yang kita tabungkan kita berikan kepada orang tua kita yangf sedang susah pasti alangkah bahagianya orang tua temen 2 bisa melahirkan dan mendidik anak seperti temen 2 iyaaa gaaakkkk!!!
Friends !!!! Persoalan budaya yang menyangkut moral adalah salah satu hal terpenting dalam Negara ini . friends kita bangsa Indonesia minimal dan pasti harus membudayakan bangsa kita sendiri dengan cara mengimplementasikan dalam suatu kreatifitas yang kita punyai “sebagai bangsa yang bermartabat . kreatifitas bukan hanya datang dari nyanyi doang bukan hanya jadi pemain sinetron doang bukan itu friends . tapi kreatifitas adalah suatu kesadaran dalam diri yang di implementasikan menjadi suatu kontribusi yang bermanfaat bukan hanya pada diri kita tapi untuk bangsa yang kita cintai ini . persoalan bukan hanya dalam budaya atawa menyangkut moral semata. banyak hal yang harus dibenahi dalam Negara yang kita cintai ini. walaupun kita beda agama , beda suku , beda kebudayaan , beda dalam tradisi tapi itulah senjata kita yang nyata yang dapat kita gunakan untuk mengenalkan budaya kita . kita sebagai pemuda yang hanya mengandalkan sebagian kecil pemikiran kita , sebagian kecil dari tenaga kita gak usah malu dengan budaya kita seperti dangdut, menjadi sinden , tari jaipong ,dll merupakan budaya asli kita dan satu 2 nya di dunia dan kita patut menyadari itu dan membanggakan hal itu . janganlah kita membudayakan Apa yang bukan budaya kita toh Negara ini mempunyai budaya yang gak kalah dari Negara lain sampai 2 budaya kita ada yang dicuri oleh Negara tetangga yang kekurangan budaya.
Label: Umum
Teenlit Sebagai Cermin Budaya Remaja Perkotaan Masa Kini
0 komentar Diposting oleh teen-agers.cO.cc di 9:32:00 AMTeenlit Sebagai Cermin Budaya Remaja Perkotaan Masa Kini
Kalau ditanya apa genre novel yang tengah populer pada masa kini, mungkin jawabnya adalah "teenlit", alias "teen literature". Karya fiksi ini mendapat sambutan yang luar biasa dari penggemarnya. Buktinya, karya-karya fiksi berlabel "teenlit" ini sampai dicetak berkali-kali. Sebut saja "Dealova" karya Dyan Nuranindya yang langsung ludes 10 ribu eksemplar hanya dalam tempo sebulan. Malahan, "Dealova" juga telah diangkat ke layar lebar.
Genre yang mulai merebak sekitar tahun 2000-an ini memang boleh dikatakan fenomenal. Pangsa pasarnya berkisar di lingkungan remaja putri, dapat dikatakan bersaing dengan genre yang "sedikit" lebih dewasa, "chicklit", atau "chick literature". Perkembangannya pun boleh dikata hampir beriringan. Bila "chicklit" lebih mengarah pada sosok wanita muda protagonis yang mandiri, lajang, bergaya hidup kosmopolit, dengan pelbagai problematika percintaan (Anggoro 2003), "teenlit" cenderung mengarah pada kaum remaja putri, kehidupan sekolahan, pesta "sweet seventeen", dan juga percintaan (Sulistyorini 2005).
BERAKAR DARI BARAT SUKSES DI LOKAL
Meski demikian, akar dari kedua genre ini sesungguhnya sama: sama-sama buatan Barat. "Buku Harian Bridget Jones" (terjemahan "Bridget Jones` Diary"; juga telah dilayarlebarkan) merupakan buku pertama dari genre tulisan populer ini yang muncul di Indonesia pada 2003.
Namun, ketika "teenlit" dan "chicklit" terjemahan sepertinya mulai mendominasi, para penulis lokal pun turut menggeliat. Karya-karya mereka yang sampai dicetak hingga jutaan kopi menunjukkan bahwa "teenlit" dan "chicklit" lokal pun bisa menggeser dominasi "teenlit" dan "chicklit" Barat. Sebut saja "Cintapuccino" yang dalam sebulan sudah harus dicetak tiga kali dan terjual 11.000 eksemplar sejak diluncurkan; "Dealova" sejumlah 10.000 eksemplar, juga sebulan setelah dirilis; "Fairish" yang sampai 2005 sudah terjual 29.000 eksemplar.
Fakta tersebut menggambarkan potensi yang dimiliki para penulis lokal kita tidaklah kalah dengan para penulis luar. Setidaknya, mereka berhasil meraih pasar dalam negeri.
BERMULA DARI BUKU HARIAN
Sebagai salah satu genre tulisan, "teenlit" dan "chicklit" mungkin bisa dibilang tidak terlalu rumit. Alur cerita yang mudah ditelusuri; gaya bahasa yang sangat mengena; fenomena yang diangkat terkesan sangat dekat; semua itu memungkinkan penerimaan bagi genre yang boleh disebut relatif baru dalam khazanah sastra Indonesia. Hal ini pulalah yang menjadi daya tarik bagi kalangan remaja sebagai kalangan yang paling menggemari "teenlit" dan "chicklit".
Isi cerita yang demikian bisa dimaklumi karena kebanyakan penulis genre ini ialah anak-anak remaja. "Dealova", misalnya, ditulis ketika penulisnya masih duduk di bangku SMP. Sementara "Me Versus High Heels" ditulis oleh siswi SMU. Sebagian karya ini malah diangkat dari buku harian dengan modifikasi di sana-sini demi menghasilkan rangkaian cerita yang menarik.
Tidak dapat dimungkiri, fenomena ini memberi dampak positif, setidaknya dalam dua hal. Pertama, keberhasilan para penulis muda ini bisa mendorong siapa saja untuk mulai mengikuti jejak mereka. Tidak heran bila kemudian ada lebih banyak lagi penulis untuk genre baru ini. Kedua, fakta bahwa beberapa novel berangkat dari sebuah buku harian bisa menegaskan kembali bahwa menulis tidak serumit yang dibayangkan kebanyakan orang. Semua bisa diawali dari diri sendiri.
CERMINAN BUDAYA PARA REMAJA
Pada sebuah "teenlit", remajalah yang menjadi sentralnya. Kehidupan mereka berada di seputar sekolahan, pergaulan dengan teman-teman sebaya mereka, hobi dan minat anak remaja. Dunia remaja juga dimeriahkan dengan percintaan, umumnya dengan teman-teman sebaya mereka; mulai dari menaksir seseorang dan jatuh cinta, patah hati, sampai pada kenakalan remaja.
Semua itu tercermin dalam sejumlah "teenlit". Dengan demikian, secara tidak langsung, sebuah "teenlit" bisa dianggap sebagai cermin budaya para remaja.
Lihat saja, misalnya "Looking for Alibrandi" yang menggambarkan kehidupan anak remaja. Novel yang ditulis dengan gaya penulisan buku harian ini isinya tidak jauh dari kehidupan sekolah, jatuh cinta (baca: naksir), dan pesta ulang tahun. Sementara itu, gambaran kehidupan remaja yang natural, dengan kekonyolan, kejahilan, dan keanehan lainnya bisa juga dilihat pada "Fairish".
Lalu aspek yang rasanya juga jelas terlihat ialah aspek bahasa. Gaya bahasa gaul, yang sebenarnya merupakan bahasa Indonesia dialek Jakarta turut hadir dalam novel genre ini. "Loe-gue" yang dihadirkan tidak sekadar membuat "teenlit" begitu terasa dekat dengan para remaja, tapi justru dunia remaja yang demikian itulah yang tercermin lewat "teenlit". Belum lagi cara penyajiannya yang menyerupai penulisan buku harian, lebih membangkitkan keterlibatan para pembacanya (Santoso 2005).
Sebagai cermin budaya remaja, "teenlit" juga turut menghadirkan efek positif. Kita mengakui kalau masa-masa remaja tidak sekadar masa-masa ceria belaka, tetapi juga masa-masa kritis pencarian jati diri. Santoso melihat bahwa sejumlah "teenlit" dan "chicklit" turut memberikan alternatif pencarian identitas diri, mulai yang normatif, sampai yang memberontak. Para pembaca bisa menggunakannya sebagai salah satu pertimbangan pilihan identitas diri.
GUGATAN TERHADAP "TEENLIT"
Meski fenomenal, pro-kontra terhadap genre ini tetap saja mencuat. Sebagian kalangan beranggapan bahwa karya satu ini adalah karya yang terlalu ringan. Sama sekali tidak mengangkat fenomena krusial dalam masyarakat. "Teenlit" (demikian pula dengan "chicklit") juga dianggap hanya menawarkan sisi manis kehidupan, sesuatu yang tidak bisa dianggap sebagai kondisi global masyarakat Indonesia.
Gugatan demikian pada satu sisi memang ada benarnya. Kalau kita bandingkan, misalnya dengan novel "Bunga" karya Korrie Layun Rampan, "teenlit" jelas tidak seimbang. Korrie tidak sekadar menyajikan dengan bahasa yang "taat kaidah", tapi juga indah. Isu yang diangkat juga cenderung lebih kaya dan berbobot. Hal ini menyebabkan "teenlit" tidak akan bertahan lama.
Selain itu, "teenlit" juga dianggap sebagai genre yang merusakkan bahasa. Meskipun ragam lisan menjadikan "teenlit" sangat dekat dengan pembacanya yang notabene merupakan remaja, ragam itu cenderung tidak disajikan dengan daya didik yang tinggi. Malah keberadaan bahasa Indonesia terkesan tidak terencana dan tidak terpola dengan baik. Termasuk pula keberagaman bahasa dan warna-warni percakapan yang dipandang tidak dapat dipola dan hampir tidak terkendali. Selain itu, dari segi politik bahasa nasional, novel "teenlit" dianggap tidak memedulikan bahasa Indonesia.
Dari segi isi, "teenlit" juga dituduh sebagai genre yang menganggap bahwa nilai-nilai pergaulan seperti di Barat (berciuman dengan lawan jenis, membicarakan seks, pesta-pesta) wajar-wajar saja diterapkan. Maka yang ditampilkan ialah warna-warni kehidupan yang meniru gaya Barat. Sehingga rok pendek dan baju ketat turut menjadi tren masa kini. Demikianlah kira-kira gugatan yang disampaikan lewat sebuah Debat Sastra yang diselenggarakan di Universitas Nasional, 7 September 2005 tentang "teenlit".
Gugatan ini bisa dianggap cukup berlebihan. Karena kalau kita mencermati, gaya hidup remaja sejak sebelum genre ini merebak, tidaklah berbeda jauh. Aspek bahasa mungkin tidak seheboh saat ini, namun sudah tercermin sejak lama. Demikian pula dalam hal pergaulan. Apalagi pengaruh budaya Barat sudah meresap di negeri ini sejak lama. Dengan kata lain, transisi budaya itu tidak terjadi ketika "teenlit" atau "chicklit" hadir.
"TEENLIT" MASA DEPAN
Meski dinilai miring oleh sejumlah kalangan, kehadiran "teenlit" itu sendiri memang bukannya tanpa nilai positif. Selain membakar semangat para penulis muda untuk berani berekspresi, "teenlit" terbukti mampu meramaikan dunia perbukuan di Indonesia. Terlebih lagi, dengan membanjirnya jenis bacaan yang sangat mudah dicerna ini, minat baca remaja turut meningkat. "Teenlit" juga cukup berhasil mengangkat kehidupan remaja (meski masih terbatas pada remaja perkotaan) ke permukaan, sekaligus menawarkan alternatif jati diri, sebagaimana dikemukakan Santoso di atas.
Selain itu, tidak dapat dimungkiri pula bahwa "teenlit" cukup berhasil mengangkat kehidupan remaja ke permukaan. Memang fenomena yang diangkat masih berupa kehidupan remaja perkotaan.
Hanya saja, sebuah tulisan yang cenderung bersifat menghibur umumnya tidak akan bertahan lama. Apalagi bila tidak memiliki nilai yang dalam. Tidak heran apabila genre "teenlit" suatu waktu akan tergerus oleh waktu dan tergantikan dengan genre tulisan yang lain. Oleh karena itu, "teenlit" masih harus bertransformasi untuk mempertahankan keberadaannya. Mungkin sudah saatnya untuk menghadirkan aspek-aspek lain, misalnya substansi pergeseran budaya masyarakat agraris ke urban.
Label: Umum
| Cinta Masa Remaja |
Salah satu sasaran bidik mutakhir dari sinetron masa kini adalah remaja. Kalau dulu yang namanya sinetron itu identik dengan ibu-ibu atau bahkan pembantu rumah tangga, maka sekarang remaja usia ABG pun mereka jadikan ‘mangsa’. Kini menjamur sinetron yang latar belakangnya adalah kisah percintaan sepasang manusia yang usianya masih remaja ; masih SMA, bahkan ada juga yang SMP.
Bukan sinetron saja. Masalah percintaan kaum remaja memang tidak ada habis-habisnya dieksploitasi oleh para raksasa industri. Valentine dijadikan ajang untuk menjual habis barang dagangan, dengan sasaran utamanya adalah kaum remaja. Siapa korban terbanyak dari Britney Spears? Tidak lain dan tidak bukan adalah kaum remaja. Siapa yang merasakan dampak besar akibat merebaknya pornografi? Ternyata kaum remaja juga. Jadi dengan mudah kita dapat menyimpulkan bahwa menjadi remaja di jaman sekarang ini memang runyamnya minta ampun!
Masalahnya (menurut saya) hanya satu : kaum remaja seringkali tidak punya pegangan. Di satu sisi ia baru saja beranjak dari usia kanak-kanak, di mana pada masa-masa itu ia hanya menggunakan satu logika, yaitu meniru. Di sisi lain, ia juga baru mulai menjajaki kehidupan orang dewasa yang penuh dengan pilihan dan terbukanya akses-akses yang sebelumnya tidak bisa dibuka. Repotnya lagi, pada usia ini pulalah muncul keinginan untuk memberontak, baik pada orang tua, guru, atau tatanan nilai-nilai adat dan agama. Kecuali aturan Allah SWT, segalanya memang boleh dikritisi. Namun apakah semua harus dilawan? Inilah salah satu godaan terbesar yang dialami oleh setiap manusia ketika menginjak masa usia remaja.
Akhirnya, alih-alih melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, kaum remaja justru seringkali mencederai kepentingannya sendiri. Karena kesal pada orang tua yang selalu menyuruh belajar (misalnya dengan memberi target rangking, menyuruh anak belajar di bimbel plus belajar privat di rumah), maka ia ‘membalasnya’ di sekolah, misalnya dengan bolos, dan berbagai kenakalan lainnya. Sebenarnya sedikit sekali remaja yang benar-benar nakal. Sebagian besar hanya marah, dan kebingungan bagaimana harus menyalurkan amarahnya.
Dengan prinsip ‘tampil beda’, akhirnya kaum remaja justru ‘tampil seragam’. Waktu saya kelas 2-3 SMP dahulu, siswi sekolah sedang gandrung sepatu ‘Doc Mart’. Sekarang, rata-rata kaus kakinya tinggi seperti pemain sepak bola, dan panjang baju seragamnya pas sampai di pinggang. Dulu sekali, orang-orang beramai-ramai mengkeritingkan rambutnya. Sekarang, yang ikal pun ingin rambut lurus. Kalau dulu kekekaran tubuh dan ke-macho-an pribadi adalah kebanggaan para siswa, sekarang mereka malah tampil sekurus mungkin, dengan gaya rambut yang aneh meniru-niru Good Charlotte dan band punk semacamnya. Mereka memang mengaku ingin tampil beda, tapi di mata orang lain, mereka justru tak berkarakter sama sekali. Inilah ‘sisa-sisa’ logika meniru yang masih mereka pakai dari masa kanak-kanak.
Pada usia ini pula manusia cenderung melakukan hal-hal yang akan disesalinya kemudian. Masalahnya, mereka tidak melakukannya dengan niat yang tepat. Berbuat salah itu biasa bagi siapa pun, namun ada kalanya seorang remaja melakukan sesuatu yang salah menurut akalnya, namun ia tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya. Kadang mereka melakukannya untuk mencari perhatian, kadang hanya demi pembalasan, meskipun nyaris selalu salah sasaran.
Pada prinsipnya kaum remaja seringkali merasa kesepian. Mereka merasa orang tuanya tidak memahami keadaan dirinya (dan kalau mau jujur, orang tua memang seringkali lupa dengan kondisi jiwa kaum remaja), apalagi gurunya. Maka mereka pun berpaling pada teman-teman sebayanya dan orang-orang yang mereka idolakan. Jika teman-temannya merokok, maka mereka pun tergoda untuk merokok. Jika artis Hollywood pujaan hatinya menjunjung tinggi seks bebas, maka perzinaan pun tidak tabu lagi di matanya.
Adalah sebuah ironi yang tak terperi ketika saya menyadari bahwa kaum remaja selalu ingin dimengerti, namun mereka sendiri seringkali tidak mengerti dirinya sendiri. Mereka mencari-cari identitas dirinya ‘keluar’, padahal mereka seharusnya duduk dan mencarinya ‘di dalam’. Mereka melihat-lihat identitas orang lain dan mencoba menerapkannya pada diri sendiri dengan logika trial and error yang sangat menyedihkan. Padahal sunnatullaah berlaku sampai kapan pun : manusia tidak menghormati seorang copycat ! Anda bisa dengan mudah tampil keren, tapi terhormat itu urusan lain lagi.
Kembali pada masalah cinta, khususnya cinta remaja. Kaum remaja seringkali tidak menyadari keadaan dirinya sendiri yang masih sangat labil dan amat dipengaruhi oleh ego pribadi. Kondisi yang demikian ini adalah kondisi yang paling tidak ideal untuk berkecimpung dalam masalah percintaan. Itulah sebabnya, meskipun sinetron-sinetron menggambarkan sebaliknya, namun drama percintaan yang dialami oleh kaum remaja lebih sering kandas di tengah jalan daripada berlanjut menuju akhir yang baik.
Jika bicara masalah cinta, yang seringkali muncul dalam perbincangan adalah ucapan-ucapan seperti :
- “Kamu kok nggak ngertiin aku...”
- “Aku ingin...”
- “....pasangan yang bisa membahagiakan aku.”
Kata-kata yang saya tebalkan dapat dengan mudah menunjukkan adanya campur tangan ego dalam kadar yang cukup tinggi. Sekali lagi, ini adalah racun dalam urusan cinta-cintaan. Sayangnya, banyak yang tidak menyadari.
Bagi seorang Muslim, hidup bukan untuk diri sendiri. Jangan bicara kasih sayang kalau masih memikirkan diri sendiri, dan jangan ngomong cinta kalau tidak mau mendahulukan pasangan. Dengan demikian, kalau memang mau bicara cinta, maka seorang remaja harus rela terlebih dahulu untuk melepaskan logika kanak-kanaknya dan melangkah lebih jauh dengan logika orang dewasa. Dan untuk menjadi dewasa, tentu saja, butuh waktu.
Sebagai remaja yang baik maka, hargailah waktu.
Kamis, 26 Maret 2009
| Kepribadian | | | |
Masa Remaja dikatakan sebagai Masa Peralihan, dimana mereka harus mampu membentuk sikap serta kepribadiannya agar mampu menjadi remaja yang baik.
KEPRIBADIAN menurut Allport adalah:
…sebuah organisasi dinamis di dalam sistem psikis dan fisik individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya.
Sedangkan menurut Pervin dan John:
kepribadian mewakili karakteristik individu yang terdiri dari pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang konsisten.
Dalam teori-teori kepribadian, kepribadian terdiri dari antara lain trait dan tipe (type). Trait sendiri dijelaskan sebagai konstruk teoritis yang menggambarkan unit/dimensi dasar dari kepribadian. Trait menggambarkan konsistensi respon individu dalam situasi yang berbeda-beda. Sedangkan tipe adalah pengelompokan bermacam-macam trait. Dibandingkan dengan konsep trait, tipe memiliki tingkat regularity dan generality yang lebih besar daripada trait.
Trait merupakan disposisi untuk berperilaku dalam cara tertentu, seperti yang tercermin dalam perilaku seseorang pada berbagai situasi. Teori trait merupakan teori kepribadian yang didasari oleh beberapa asumsi, yaitu:
- Trait merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang membedakan seseorang dari yang lain, sehingga:
- Trait relatif stabil dari waktu ke waktu
- Trait konsisten dari situasi ke situasi
- Trait merupakan kecenderungan dasar yang menetap selama kehidupan, namun karakteristik tingkah laku dapat berubah karena:
- ada proses adaptif
- adanya perbedaan kekuatan, dan
- kombinasi dari trait yang ada
Tingkat trait kepribadian dasar berubah dari masa remaja akhir hingga masa dewasa. McCrae dan Costa yakin bahwa selama periode dari usia 18 sampai 30 tahun, orang sedang berada dalam proses mengadopsi konfigurasi trait yang stabil, konfigurasi yang tetap stabil setelah usia 30 tahun (Feist, 2006).
Teori trait dimunculkan pertama kalinya oleh Gordon W. Allport. Selain Allport, terdapat dua orang ahli lain yang mengembangkan teori ini. Mereka adalah Raymond B. Cattell dan Hans J. Eysenck.
Allport mengenalkan istilah central trait, yaitu kumpulan kata-kata yang biasanya digunakan oleh orang untuk mendeskripsikan individu. Central trait dipercaya sebagai jendela menuju kepribadian seseorang. Menurut Allport, unit dasar dari kepribadian adalah trait yang keberadaannya bersumber pada sistem saraf. Allport percaya bahwa trait menyatukan dan mengintegrasikan perilaku seseorang dengan mengakibatkan seseorang melakukan pendekatan yang serupa (baik tujuan ataupun rencananya) terhadap situasi-situasi yang berbeda. Walaupun demikian, dua orang yang memiliki trait yang sama tidak selalu menampilkan tindakan yang sama. Mereka dapat mengekspresikan trait mereka dengan cara yang berbeda. Perbedaan inilah yang membuat masing-masing individu menjadi pribadi yang unik. Oleh sebab itu Allport percaya bahwa individu hanya dapat dipahami secara parsial jika menggunakan tes-tes yang menggunakan norma kelompok.
Sama seperti Allport, Cattell juga percaya bahwa kata-kata yang digunakan seseorang untuk menggambarkan dirinya dan orang lain adalah petunjuk penting kepada struktur kepribadian. Perbedaan mendasar antara Allport dan Cattell adalah bahwa Cattell percaya kepribadian dapat digeneralisir. Yang harus dilakukan adalah dengan mencari trait dasar atau utama dari ribuan trait yang ada.
Menurut Allport, faktor genetik dan lingkungan sama-sama berpengaruh dalam menentukan perilaku manusia. Bukan hanya faktor keturunan sendiri atau faktor lingkungan sendiri yang menentukan bagaimana kepribadian terbentuk, melainkan melalui pengaruh resiprokal faktor keturunan dan lingkungan yang memunculkan karakteristik kepribadian.
Sehubungan dengan adanya peran genetik dalam pembentukan kepribadian, terdapat 4 pemahaman penting yang perlu diperhatikan:
1. Meskipun faktor genetik mempunyai peran penting terhadap perkembangan kepribadian, faktor non-genetik tetap mempunyai peranan bagi variasi
kepribadian
2. Meskipun faktor genetik merupakan hal yang penting dalam mempengaruhi lingkungan, faktor non-genetik adalah faktor yang paling bertanggungjawab
akan perbedaan lingkungan pada orang-orang
3. Pengalaman-pengalaman dalam keluarga adalah hal yang penting meskipun lingkungan keluarga berbeda bagi setiap anak sehubungan dengan jenis
kelamin anak, urutan kelahiran, atau kejadian unik dalam kehidupan keluarga pada tiap anak.
4. Meski terdapat kontribusi genetik yang kuat terhadap trait kepribadian, tidak berarti bahwa trait itu tetap atau tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan.
REMAJA DAN KARYA
Keuntungan:
- Mengembangkan minat dan bakat melalui karya yang dibuat.
- Memperluas relasi dan dikenal banyak orang.
- Menambah nilai-nilai kehidupan selama berkarya seperti mengenal macam- macam pribadi orang, kerja sama, dan lainnya.
- Menambah pengalaman yang menjadikan kita lebih matang, seperti kata pepatah "Experience is the best teacher ever!"
- Karya yang bersifat komersil akan menambah uang jajan, syukur-syukur dapat dijadikan penghasilan.
- Dengan bermodalkan relasi dan prestasi yang banyak, mempermudah kita mendapatkanlowongan kerja.
- Terlalu sibuk berkarya akan mengganggu kegiatan-kegiatan yang lain.
- Apabila manajemen waktu buruk, akan memengaruhi prestasi belajar sehingga dapat menurun.
- Tidak menutup kemungkinan selama berkarya akan masuk pengaruh- pengaruh negatif, seperti menjadi malas sekolah karena merasa sudah hebat atau sudah dapat mencari uang sendiri.
- Mayoritas, kesuksesan dalam berkarya baik secara langsung maupun tak langsung akan menyebabkan kita terbuai dalam kesenangan semata sehingga kita cenderung lupa akan tugas pokok kita, yaitu belajar.
Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja
Perkembangan fisik
Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).
Perkembangan Kognitif
Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).
Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).
Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.
Personal fabel adalah "suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar" . Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya. Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :
“Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya. Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [karena perilaku seksual yang dilakukannya], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya”.
Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.
Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.
Perkembangan kepribadian dan sosial
Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.
Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).
Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).
Ciri-ciri Masa Remaja
Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.
- Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
- Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
- Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
- Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
- Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.
Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara lain :
- memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan
- memperoleh peranan sosial
- menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif
- memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya
- mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri
- memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan
- mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
- membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup
Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwa tugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion, yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001).
Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya, apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk melakukan penyesuaian mental, dan menentukan peran, sikap, nilai, serta minat yang dimilikinya.
| Remaja | | | |
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.
Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.
Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).
Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial.